Senin, 13 Maret 2017

Ketika Cinta Diperhadapkan dengan Tawaran Kemapanan. Cinta Sepenuh Hati dan Logika Sehat, Akankah Kita Memilih Tetap Bertahan ?

Tak mudah memilih antara cinta sepenuh hati dan logika sehat. Saya tahu rasanya ditarik oleh dua kutub yang sama-sama manis. Membaca setiap kata Selma, saya becermin : Itu sewaktu saya masih berumur belasan tahun.

Tak setia! Oportunitis!

Tuduhan ini yang banyak diberikan pada Selmadena Aquilla, gadis cantik yang baru-baru ini resmi dipersunting oleh Haqy Rais, Putra Amien Rais, menjadi istrinya. Selma memilih untuk menjawab lamaran Haqy letika statusnya hanya sedang jadi pacar orang. Beberapa postingan-an Selma di media sosial mendapat banyak kritikan. Orang mencerca  keputusannya untuk meninggalkan sang pacar dan menikah dengan Haqy. Tak sedikit yang menganggap Selma telah mengkhiantai cinta sang pacar demi mendapatkan kemapanan hidup.

Realistis?

Ya, bagi saya pilihan Selma tidak salah. Ia hanya bersikap realistis. Dari kisah-kisah yang dia tuliskan, perjalanan berbatu yang saya saksikan.
Tak mudah memilih antara cinta sepenuh hati dan logika sehat.
Saya tahu rasanya terjabak diantara dua kutub yang sama-sama manis. Membaca setiap kata Selma, saya seperti becermin: Itu saya belasan tahun lalu.
Apakah ini yang disebut ‘Cinta’?

Kami belum resmi pacaran. Tapi kami saling mengenal satu sama lain,  dan kami sama-sama tertarik. Kami juga sama-sama sedang bergumul. Mencoba mengenali, apakah jalan ke depan ini yang disebut orang sebagai ‘cinta’.
Kami masih duduk di bangku SMA, beda sekolah. Kami berjumpa di sebuah komunitas anak muda. Badannya tegap dan atletis. Dia memang hobi berolahraga. Tak begitu rupawan, tapi cukup banyak perempuan menyukainya. Dia baik dan humoris. Tapi, dia tak bisa main alat musik. Praktis saya tidak bisa banyak ngobrol dengannya tentang hal yang saya gemari ini. Dia tak suka membaca, lebih suka main game daring. Satu lagi perbedaan! Walau demikian, obrolan kami masih bisa nyambung.
Dalam proses berjalan saya melihat banyak ganjalan muncul. Dia anak bungsu, dan masih terlalu bergantung kepada kedua kakaknya dan orang tuanya. Dalam beberapa peristiwa, saya menyaksikan sulitnya dia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Si bungsu yang manja ini juga ternyata tak cukup mampu mendorong diri untuk  maju. Dia hampir tidak naik kelasl karena nilainya ada di perbatasan standar kenaikan kelas.
Di sudut hati muncul pertanyaan, “Bisakah dia menjadi laki-laki yang dapat disandari? Bertanggung jawab untuk diri sendiri saja masih kulit.”
“Ah …. dia masih bisa berubah jadi lebih baik, kok!” saya masih berusaha menepis pikiran negatif. Masih ada banyak waktu di depan bagi dia untuk menjadi seorang laki-laki yang bisa diandalkan. Dia baik hati dan tulus, saya rasa itu cukup untuk sementara waktu.

Ujian Datang Juga

Ujian akhirnya datang juga; ujian kelulusan SMA, juga ujian relasi kami. Sudah beberapa hari tak ada telepon darinya. Pesan pendek pun sangat singkat dan terasa hambar, seperti formalitas saja. Inikah yang namanya cinta ? Inikah bagian dari sebuah perjalanan mencari cinta ? Tak ada kepastian, tapi saya-yang masih naif kala itu-berusaha menunggunya.
Di saat yang hampir bersamaan , seorang mengenalkan saya dengan sesosok lelaki lain. Tak ada tendensi khusus, berteman saja. Dalam beberapa pertemuan, saya menemukan banyak kesamaan dengannya. Memang dia sudah lulus kuliah dan baru bekerja, tapi ia seorang pemusik dan suka membaca. Sekalipun berbeda usia, pembicaraan kami nyambung saja. Bahkan berdiskusi dengannya membuat lupa waktu. Saya menilainya sebagai seorang teman ngobrol yang asyik dan seorang kakak yang baik.
Hingga suatu malam, saya diperhadapkan kepada situasi yang rumit dengan pilihan yang sulit.

Setia atau Realistis?

Awalnya, ia membagikan visi hidupnya dengan detail. Ia ingin mendedikasikan hidup untuk pelayanan sosial. Ia bilang tak akan mengejar kekayaan materi. Baginya, kaya adalah berguna untuk orang lain disekitar kita.
Lalu dia bertanya,
Bagaimana dengan kamu? Maukah kamu jadi pendamping seorang pekerja sosial?”
Saya hanya tertegun mendengar pertanyaannya.
Saya masih SMA dan sudah terdaftar sebagai calon mahasiswa di perguruan tinggi swasta yang cukup ternama. Saya belum siap dengan pertanyaan seperti itu. Bukan hanya ia bertanya apakah saya mau jadi pacarnya, ia menanyakan kesiapan untuk serius.” Aku masih pingin kerja, menabung cukup uang untuk modal visiku. Tapi aku tak ingin terus berhubungan dengan kamu tanpa ada sebuah komitmen. Aku perlu tahu apakah kamu serius dan mau menjalani visi ini bersamaku,” tantangnya.
Beberapa malam itu saya tak nyenyak tidur. Galau. Memang status saya bukan pacar orang, tapi bukankah saya pernah berjanji menggumuli hubungan  dengan seorang lelaki? Apakah saya menjadi orang yang tidak setia jika mengingkarinya? Di sisi lain, ada lelaki yang lebih mapan yang menawarkan kehidupan yang lebih pasti dan terjamin untuk ke depannya. Ia tak mencari sensasi cinta anak muda, ia menawarkan keseriusan untuk masa depan bersama.
Apakah saya harus tetap setia mencari cinta atau realistis menjalani langkah untuk kedepannya?

Berakhir Tanpa Pernah Dimulai

Saya berdoa, berderai air mata, memohon tanda dari Tuhan. Meskipun sejujurnya saya sendiri tak mengerti dan tak tahu harus meminta tanda seperti apa. Takut memilih yang salah, saya menanti tanda dengan sabar. Hingga di peringatan hari Kemerdekaan Indonesia, sebuah tanda ‘memerdekakan’ saya untuk berani memilih.
Komunitas kami mengadakan sebuah acara tepat di tanggal 17 Agustus. Dia hadir, dengan senyuman yang berbeda. Yang terasa dipaksakan. Acara baru setengah jalan, dia mengajak saya ke tempat yang lebih sepi. Ingin bicara, katanya.
Ia nampak amat bingung dan gelisah seolah ingin mengungkap sesuatu. Pandangannya ia buang jauh ke tempat lain. Tanpa menatap saya, ia berkata,
“Sepertinya kita tidak perlu meneruskan perjuangan ini. Kita jadi teman saja, tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah bisa berhubungan lebih serius lagi. Kamu bebas, aku pun bebas.”
Hati saya remuk rasanya. Namun di waktu yang sama, entah bagaimana, seperti ada sayap yang menopang, membuat pikiran jadi lebih ringan.
Saya hanya mengangguk.
“Kita tetap bisa jadi teman. Tak usah takut canggung. Friends, okay?” dia mengulurkan tangan. Saya menjabat tanganya sambil berusaha tersenyum. Lalu dia pergi, meninggalkan saya sendiri di sana.
Kisah kami berakhir tanpa pernah masuk ke bab “Pacaran”.
Seharusnya saya menangis tapi hati ini malah ingin tertawa lepas.

Cinta Sepenuh Hati atau Logika Sehat ?



“Inikah tanda dari-Nya? Inikah pilihan saya sebenarnya?”

Seminggu kemudian, pertanyaan visi hidup kembali disodorkan kepada saya. Ia bertanya,
“Sudahkah memikirkan visi hidupmu? Kalau visi hidupmu tidak sejalan denganku, aku rela berhenti di sini. Tak ada gunanya jalan kita berbeda arah.”
Tak serta merta saya memberi jawab. Saya cukup tersentak dengan pertanyaan yang begitu lugas, seakan tak ada perasaan didalamnya.

Realistis

Selmadena menulis di akun media sosialnya,
“Realistis. Bukan melalui soal materi, bukan pula soal nama besar, apalagi soal paras. Realistis yang saya maksud ialah berjalan berdua, meniti karir bersama, berkembang bersama.”
Realistis. Kami perempuan tak butuh janji muluk tentang masa depan penuh harapan. Kami butuh kepastian komitmen untuk menjalani masa depan bersama. Kami perlu dukungan penuh bahwa kami bukan sekedar pajangan, tetapi pasangan sepadan untuk mencapai visi bergandengan tangan.

Realistis. Saya memilihnya karena ia membuat saya berpikir matang menggumuli visi hidup. Saya memilihnya karena ia mendorong saya untuk terus maju dan menarik saya serta dalam perjalanannya mewujudkan mimpi. Saya memilihnya dan tak pernah menyesal.
Realistis. Ia yang dahulu menuntut komitmen, kini memberi komitmen penuh untuk membangun kehidupan bersama. Ia, mantan pacar yang kini menjadi suamiku, menetapi janjinya dengan serius membangun mimpi kami.

Realistis. Berkembang bersama, melalui perjalanan hidup dengan segala musimnya, bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar